Donasi

Bahaya Kezaliman: Menggali Makna Hadits Arba’in ke-24 dan Larangan Melampaui Batas

Keadilan adalah napas dalam ajaran Islam, dan sebaliknya, kezaliman adalah kegelapan yang diharamkan. Salah satu rujukan utama dalam memahami hal ini adalah Hadits Arba’in An-Nawawi nomor 24. Hadits Qudsi yang luar biasa ini diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, di mana Allah SWT berfirman:

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”

Kedahsyatan hadits ini begitu terasa hingga dikisahkan bahwa Abu Idris Al-Khawlaniy (perawi hadits ini) langsung tersungkur berlutut saat membacakannya sebagai bentuk ketundukan kepada Allah.

Apa Itu Zalim?

Secara bahasa, zalim berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dalam pandangan Islam, zalim adalah melampaui batas hak Allah, hak orang lain, maupun hak diri sendiri. Sifatnya identik dengan kebengisan, kekejaman, dan ketidakadilan.

Allah memerintahkan kita untuk melakukan tadabbur (perenungan) terhadap peringatan-Nya. Sebagaimana firman Allah: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24). Tanpa perenungan, hati akan menjadi keras dan terkunci dari kebenaran.

Tiga Bentuk Kezaliman yang Harus Diwaspadai

Di lingkungan keluarga besar Yaspi Cantayan, kita perlu memahami bahwa kezaliman tidak hanya soal menyakiti orang lain, namun terbagi dalam tiga kategori besar:

1. Kezaliman terhadap Allah SWT

Ini adalah bentuk kezaliman yang paling besar. Allah berfirman dalam QS. Luqman: 13, “…sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

  • Syirik: Menyekutukan Allah.
  • Kufur: Mengingkari nikmat atau ajaran agama.
  • Kufur Nikmat: Tidak bersyukur atau menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat.

2. Kezaliman terhadap Diri Sendiri

Banyak manusia tidak sadar bahwa saat ia berdosa, ia sedang menzalimi dirinya sendiri.

  • Bermaksiat: Melakukan perbuatan yang merusak ruhani.
  • Mengabaikan Hak Diri: Tidak memberikan hak istirahat, kesehatan, atau kebutuhan jiwa untuk beribadah.

3. Kezaliman terhadap Sesama Manusia

Islam sangat menjaga hak-hak antarmanusia. Kezaliman ini mencakup:

  • Harta: Mencuri, korupsi, atau menahan upah pekerja.
  • Jiwa/Raga: Menyakiti fisik, memukul, hingga membunuh.
  • Kehormatan: Ghibah (menggunjing), fitnah, atau merusak nama baik orang lain.

Allah Tidak Pernah Berbuat Zalim

Al-Qur’an menegaskan berkali-kali bahwa Allah SWT Maha Adil dan tidak akan menganiaya hamba-Nya walau sebesar zarrah (biji sawi). Segala kepahitan hidup bukanlah kezaliman Allah, melainkan seringkali merupakan buah dari perbuatan manusia itu sendiri.

  • “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (QS. Yunus: 44).
  • “…dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fussilat: 46).

Melalui artikel ini, Yaspi Cantayan mengajak kita semua untuk kembali menata niat. Mintalah petunjuk dan pertolongan hanya kepada Allah agar kita dijauhkan dari sifat zalim. Ingatlah bahwa setiap amal perbuatan akan dicatat dan dibalas dengan seadil-adilnya.

Jangan biarkan hati kita terkunci. Mari tadabburi Al-Qur’an dan hadits ini agar kita menjadi pribadi yang adil, baik kepada Allah, diri sendiri, maupun sesama makhluk.

BACA LAINNYA

TERBARU