Donasi

Kemuliaan yang Sebenarnya, Antara Harta Dunia dan Amal Akhirat

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji hanya milik Allah SWT, Rabb seluruh alam, Penguasa langit dan bumi, Pemilik dunia dan akhirat. Dialah Dzat yang memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat mengangkat kemuliaan tanpa izin-Nya, dan tidak ada yang mampu menolak kehinaan jika Allah telah menentukannya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, suri teladan dalam seluruh sisi kehidupan; kepada keluarga beliau, para sahabat yang mulia, serta seluruh pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.

Setiap manusia pasti mendambakan kemuliaan. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam kehinaan, dipandang rendah, atau dilupakan. Namun persoalan besar yang sering luput dari kesadaran kita adalah: kemuliaan seperti apa yang sedang kita kejar? Dan di hadapan siapa kita ingin terlihat mulia?

KEMULIAAN YANG DIKEJAR MANUSIA

Sebagian manusia mengukur kemuliaan dengan harta. Semakin banyak yang dimiliki, semakin tinggi rasa percaya diri dan kehormatan dirinya. Sebagian yang lain mengukurnya dengan jabatan dan kedudukan. Semakin tinggi pangkatnya, semakin merasa bernilai. Sebagian lagi mengejar popularitas, pujian, dan pengakuan manusia, meskipun harus mengorbankan prinsip dan keikhlasan.

Namun semua bentuk kemuliaan itu memiliki satu kesamaan: sementara dan pasti ditinggalkan. Harta akan berpindah tangan. Jabatan akan dicopot. Nama akan dilupakan. Dan tubuh yang hari ini kita banggakan, suatu saat akan kembali menjadi tanah.

Maka pertanyaannya: Apa yang benar-benar mulia di sisi Allah SWT?

KEUTAMAAN UMAR DAN RAHASIA ABU BAKAR

Dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad disebutkan sebuah kisah yang sangat dalam maknanya dan menggugah hati orang-orang yang mau merenung.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bertanya kepada Malaikat Jibril ‘alaihis salam tentang keutamaan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Malaikat Jibril menjawab:

“Seandainya lautan menjadi tinta dan pepohonan menjadi pena, niscaya aku tidak akan mampu menghitung kebaikan-kebaikan Umar.”

Umar bin Khattab adalah sosok yang luar biasa. Ketegasannya dalam menegakkan kebenaran, keberaniannya membela Islam, dan keadilannya dalam memimpin umat telah diakui oleh sejarah. Bahkan Rasulullah saw bersabda bahwa setan lari ketakutan ketika berpapasan dengan Umar.

Namun ketika Rasulullah saw bertanya tentang keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, jawaban Malaikat Jibril justru jauh lebih mengejutkan:

“Umar adalah satu kebaikan dari kebaikan-kebaikan Abu Bakar.”

Ini menunjukkan bahwa keutamaan Abu Bakar bukan semata pada banyaknya amal lahiriah, tetapi pada keikhlasan yang sangat dalam, ketulusan iman, dan kebersihan hatinya.

Abu Bakar unggul dalam amal hati. Ia membenarkan Rasulullah saw tanpa ragu, mencintai Allah dan Rasul-Nya tanpa syarat, dan berkorban tanpa pernah menghitung balasan. Inilah kemuliaan sejati yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sangat berat timbangannya di sisi Allah.

ALLAH MENILAI HATI SEBELUM AMAL

Banyak manusia yang rajin beramal, tetapi sedikit yang benar-benar selamat. Mengapa? Karena tidak semua amal dibangun di atas hati yang ikhlas.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan jasad kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”

Hati adalah raja. Jika hati lurus, maka amal akan lurus. Jika hati rusak, maka amal pun rusak.
Para ulama berkata: amal tanpa ikhlas seperti jasad tanpa ruh, tampak hidup, tetapi hakikatnya mati.

KEMULIAAN DUNIA DAN KEMULIAAN AKHIRAT

Para ulama menegaskan sebuah kaidah yang sangat agung:

عِزُّ الدُّنْيَا بِالْمَالِ، وَعِزُّ الْآخِرَةِ بِصَالِحِ الْأَعْمَالِ

“Kemuliaan dunia dengan harta, dan kemuliaan akhirat dengan amal shalih.”

Islam tidak melarang harta. Bahkan Islam mendorong umatnya untuk kuat secara ekonomi. Namun Islam menempatkan harta di tangan, bukan di hati.

Allah SWT berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal shalih yang kekal lebih baik di sisi Tuhanmu.” (QS. Al-Kahf: 46)

Harta hanya menemani kita sampai liang lahat. Setelah itu, yang menemani hanyalah amal.

AKHIRAT ADALAH TEMPAT PERHITUNGAN

Di akhirat tidak ada yang bisa dititipkan. Tidak ada jabatan, tidak ada kekayaan, dan tidak ada bantuan manusia.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)

Para ulama berkata:

الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَة
“Dunia adalah ladang bagi akhirat.”

Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita panen kelak.

MUHASABAH

Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri kita masing-masing:
Apakah amal kita benar-benar ikhlas karena Allah?
Apakah dunia masih berada di tangan, atau sudah masuk ke dalam hati?
Apakah kita lebih sibuk memperindah dunia, atau menyiapkan akhirat?

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata:

لَيْسَ الزُّهْدُ أَنْ تَتْرُكَ الدُّنْيَا مِنْ يَدِكَ، وَلَكِنْ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ قَلْبِكَ
“Zuhud bukanlah meninggalkan dunia dari tanganmu, tetapi mengeluarkannya dari hatimu.”

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mulia di dunia dengan amanah, dan mulia di akhirat dengan amal shalih serta hati yang ikhlas. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

BACA LAINNYA

TERBARU