Donasi

Ngaji Jumat (JIMAT): Dua Perkara yang Paling Utama dan Paling Membinasakan

Kajian Kitab Nashoihul Ibad, Bab 2, Maqolah ke-1

Setiap manusia tentu menginginkan amal perbuatannya bernilai tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, sering kali muncul pertanyaan mendasar: amalan apa yang paling utama dan menentukan keselamatan hidup kita di dunia dan akhirat? Apakah sekadar banyaknya ibadah sunnah, ataukah ada hal lain yang lebih mendasar?

Dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani رحمه الله menjelaskan bahwa ukuran utama amal tidak pernah lepas dari dua perkara besar: Hubungan yang lurus dengan Allah dan Manfaat nyata bagi sesama manusia.

Dua Perkara Paling Utama

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا: الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِينَ

“Ada dua perkara yang tidak ada satu pun amalan yang lebih utama darinya, yaitu beriman kepada Allah dan memberi manfaat kepada kaum muslimin.”

1. Iman kepada Allah (Fondasi Amal) Iman bukan sekadar ucapan lisan, melainkan keyakinan yang melahirkan keikhlasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5). Iman yang benar adalah akar yang akan menumbuhkan akhlak mulia dan perilaku jujur.

2. Memberi Manfaat kepada Sesama (Buah dari Iman) Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa hamba yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Manfaat ini bisa berupa tenaga, ilmu, kedudukan, atau sekadar ucapan yang menenangkan hati.

أَحَبُّ الْعِبَادِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Bahkan, sekadar memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin atau meringankan beban orang lain dinilai sebagai amalan yang sangat utama, setara dengan pahala besar di sisi-Nya.

Dua Perkara Paling Membinasakan

Sebaliknya, terdapat dua perkara yang paling buruk dan dapat menghancurkan seluruh nilai amal seseorang:

1. Syirik kepada Allah (Kezaliman Terbesar) Syirik merusak hubungan hamba dengan Tuhannya. Allah menegaskan: “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang paling besar.” (QS. Luqman: 13).

2. Menyakiti Kaum Muslimin (Kezaliman Sosial) Menyakiti sesama, baik melalui lisan, harta, fisik, maupun jabatan, adalah dosa yang sering diremehkan padahal dampaknya sangat berat.

وَخَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَخْبَثُ مِنْهُمَا: الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالضُّرُّ لِلْمُسْلِمِينَ

“Ada dua perkara yang paling buruk: syirik kepada Allah dan menyakiti kaum muslimin.”

Uwais al-Qarni رحمه الله pernah mengingatkan bahwa amal seorang hamba tidak akan terangkat ke langit selama masih ada tanggungan kezaliman kepada sesama manusia. Ini adalah peringatan keras bahwa ibadah ritual kita bisa tertahan jika kita masih menyisakan luka pada orang lain.

Kesimpulan

Kesempurnaan ibadah terletak pada keseimbangan antara iman yang lurus dan kepedulian sosial. Iman tanpa manfaat akan terasa kering, sementara manfaat tanpa iman akan rapuh.

Mari kita jadikan momentum Jumat ini untuk bermuhasabah: Seberapa kuat iman kita kepada Allah dan seberapa besar manfaat yang telah kita tebarkan untuk orang-orang di sekitar kita?

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita menjadi hamba yang beriman teguh dan menjadi wasilah kebahagiaan bagi orang lain. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin.

BACA LAINNYA

TERBARU